Kota Cimahi tengah berada di tengah gejolak sosial yang melibatkan ratusan pemuda dan praktisi olahraga air. Gelombang protes yang dikenal dengan tajuk Cimahi Melawan ini pecah setelah munculnya rencana pemerintah kota untuk mengalihfungsikan satu-satunya fasilitas akuatik standar kompetisi di daerah tersebut. Isu ini menjadi sangat sensitif karena melibatkan masa depan karier ratusan anak muda yang telah menggantungkan impian mereka pada ketersediaan sarana latihan yang memadai. Sebagai bentuk protes keras, muncul sebuah petisi atlet yang menuntut pembatalan rencana tersebut karena dianggap akan mematikan pembinaan prestasi di kota yang selama ini dikenal sebagai gudang atlet berbakat.
Alasan utama yang memicu kemarahan adalah rencana tolak penutupan terhadap area tersebut untuk dijadikan pusat perbelanjaan atau area komersial lainnya. Bagi para perenang di Cimahi, fasilitas yang kini disebut sebagai kolam utama tersebut adalah jantung dari seluruh aktivitas mereka. Tanpa adanya kolam tersebut, mereka harus menempuh jarak jauh ke kota lain untuk sekadar melakukan latihan rutin, yang tentu saja akan menambah beban biaya dan waktu. Gerakan Cimahi Melawan ini menyatukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelatih, orang tua, hingga mantan atlet nasional yang merasa prihatin dengan kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada pembangunan sumber daya manusia di bidang olahraga.
Dalam poin-poin yang tertulis di dalam petisi atlet, ditekankan bahwa fasilitas olahraga publik seharusnya tidak dipandang dari kacamata keuntungan finansial semata. Nilai dari kesehatan masyarakat dan prestasi pemuda tidak bisa ditukar dengan pendapatan asli daerah dari sektor retail. Upaya tolak penutupan ini juga didasari oleh fakta bahwa Cimahi sedang berada dalam tren positif di berbagai kejuaraan daerah. Jika fasilitas kolam utama ini dihilangkan, maka seluruh ekosistem pembinaan yang sudah dibangun bertahun-tahun akan runtuh seketika. Hal ini memicu rasa ketidakadilan yang mendalam, di mana pembangunan fisik dianggap lebih penting daripada pembangunan karakter dan fisik warganya.
Media sosial pun dipenuhi dengan tagar dukungan terhadap gerakan ini, yang membuat isu ini semakin luas jangkauannya. Para penggerak Cimahi Melawan mulai melakukan aksi damai dengan membentangkan spanduk di depan kantor pemerintahan. Mereka menuntut adanya transparansi mengenai alasan di balik rencana alih fungsi lahan tersebut.