Cimahi, sebuah kota yang kental dengan sejarah militer dan perkembangannya yang pesat, menyimpan sebuah sisi melankolis dalam dunia olahraga airnya. Di salah satu sudut kotanya, pernah berdiri sebuah kompleks akuatik yang menjadi saksi bisu lahirnya para perenang hebat yang pernah mengharumkan nama Jawa Barat. Kini, membahas nasib kolam renang tersebut membawa kita pada sebuah refleksi tentang betapa pentingnya pelestarian aset olahraga sebagai bagian dari identitas sebuah daerah. Tempat yang dulunya riuh dengan suara peluit pelatih dan tepuk tangan penonton kini perlahan berubah fungsi atau bahkan terbengkalai.
Pada masa kejayaannya, fasilitas ini dikenal sebagai kolam renang legendaris yang memiliki standar teknis cukup baik pada masanya. Banyak klub renang besar yang menjadikannya sebagai markas utama, di mana sesi latihan pagi dan sore selalu dipadati oleh ratusan atlet dari berbagai tingkatan umur. Di kolam inilah, rekor-rekor daerah dipecahkan dan bakat-bakat mentah dipoles menjadi permata yang siap bertanding di level nasional. Atmosfer kompetisi yang tercipta di sana sangatlah kental, menjadikannya sebuah ekosistem yang ideal bagi siapa saja yang ingin serius menekuni dunia akuatik secara profesional.
Namun, seiring berjalannya waktu dan pergeseran prioritas pembangunan, kondisi fasilitas tersebut mulai menurun. Kurangnya biaya pemeliharaan berkala membuat kualitas air dan infrastruktur pendukung seperti ruang ganti dan tribun penonton menjadi tidak layak. Fenomena ini bukanlah hal baru di Indonesia, namun bagi masyarakat Cimahi, kehilangan fungsi utama dari kolam tersebut adalah sebuah kerugian besar bagi dunia olahraga lokal. Banyak atlet yang akhirnya harus mencari tempat latihan di luar kota, yang tentu saja menambah beban biaya dan waktu bagi para orang tua dan pengurus klub.
Kini, tempat yang dulunya menjadi pusat prestasi tersebut perlahan-lahan mulai memudar dari peta olahraga aktif. Beberapa bagian mungkin telah beralih fungsi menjadi area komersial atau pemukiman, sementara bagian lainnya dibiarkan dimakan usia. Perubahan ini meninggalkan kekosongan bagi generasi muda di Cimahi yang ingin belajar berenang dengan standar yang benar. Nilai historis yang melekat pada bangunan tersebut seolah tidak cukup kuat untuk menahan arus modernisasi yang lebih mengutamakan keuntungan ekonomi jangka pendek daripada investasi jangka panjang di bidang kesehatan dan prestasi olahraga.