Dalam olahraga renang, banyak orang terlalu fokus pada kekuatan tarikan tangan untuk menghasilkan kecepatan. Padahal, motor penggerak utama yang memberikan stabilitas dan daya dorong tambahan berasal dari bagian bawah tubuh. Memiliki tendangan kaki yang kuat dan konsisten adalah rahasia di balik para perenang tercepat dunia dalam mempertahankan posisi tubuh yang hidrodinamis. Di Cimahi, sebuah pusat pembinaan atlet renang mulai menerapkan metode latihan yang unik dan intensif untuk membangun kekuatan kaki yang eksplosif. Para pelatih di sana percaya bahwa untuk mendominasi lintasan, seorang atlet harus melatih otot kakinya melampaui batas latihan kolam konvensional.
Metode yang dikembangkan di Cimahi melibatkan integrasi antara latihan di dalam air dan latihan beban di darat atau yang sering disebut dengan dryland training. Untuk menghasilkan tendangan kaki yang bertenaga, otot paha depan (quadriceps), otot paha belakang (hamstring), dan otot bokong (glutes) harus memiliki daya tahan dan kekuatan yang seimbang. Para atlet diajarkan untuk melakukan gerakan squat dan lunges dengan beban tambahan untuk merangsang pertumbuhan serat otot yang cepat. Dengan otot yang lebih kuat di darat, saat kembali ke kolam, frekuensi dan kekuatan dorongan kaki terhadap air akan meningkat secara signifikan, memungkinkan perenang untuk meluncur lebih cepat terutama saat fase setelah pembalikan badan di dinding kolam.
Selain kekuatan otot besar, fleksibilitas pergelangan kaki juga menjadi kunci yang sering kali terlupakan dalam menciptakan tendangan kaki yang efisien. Pergelangan kaki yang kaku akan menciptakan hambatan air yang besar dan mengurangi luas permukaan dorongan. Atlet di Cimahi rutin melakukan latihan peregangan khusus untuk memastikan kaki mereka bisa melakukan gerakan seperti sirip ikan. Semakin lentur pergelangan kaki, semakin besar volume air yang bisa dipindahkan dalam satu kali hentakan. Latihan ini biasanya dikombinasikan dengan penggunaan alat bantu seperti fins atau kaki katak saat di kolam untuk membiasakan otot merasakan beban resistensi air yang lebih berat dari biasanya.
Teknik tendangan juga harus diperhatikan agar tenaga yang besar tidak terbuang sia-sia. Tendangan yang efektif dimulai dari pinggul, bukan dari lutut. Gerakan kaki yang terlalu menekuk lutut justru akan menciptakan gaya hambat (drag) yang besar.